Minggu, 06 Oktober 2013

Konsep Inovasi Murah Meriah Khas India Yang Wajib Ditiru


Konsep Inovasi Murah Meriah Khas India

Pemerintah India terus mendorong inovasi dari aneka macam lini. Mereka menempuh usaha terbaru berupa peluncuran skema program 1000 ide inovasi dari sekolah-sekolah. Pemerintah India menyatakan, Kelompok Peneliti Senior akan menseleksi serta menyokong 1000 ide itu di tingkat Nasional.

Di bawah skema, "Million Minds of Innovation of Creativity" (MIMIC), Departemen Ilmu serta Teknologi India akan meminta sekitar 5000 sekolah untuk memberikan dua ide inovasi terbaiknya.

"Ide dapat diberikan dalam bentuk apapun, (uraian,rekaman,skema) " kata seorang pejabat. Dari jumlah tersebut, 1000 ide akan dipilih di tingkat kabupaten. Ide-ide terbaik akan disaring di tingkat kabupaten serta provinsi.

Baca Juga : Inilah Trik Ampuh Menghindari Radiasi Handphone Yang Belum Orang Ketahui

Pada tingkat provinsi, dari sekitar 10.000 ide akan terpilih yang terbaik. Ide-ide terbaik ini akan memperoleh hadiah bantuan 5.000 rupee. Hadiah mesti dialokasikan dalam proses menyempurnakan ide-ide itu ke tahap aplikasi. Nantinya para Ilmuwan Senior akan membimbing sekitar 1.000 siswa dari seluruh wilayah India.

India Jadi Pusat Inovasi Murah


Kita dapat menelusuri usaha pemerintah India itu lewat pelajaran yang dipetik negeri itu bertahun sebelumnya. Pada tahun 2001 sebuah gempa besar menggoncang negara bagian Gujarat-India. 2000 orang tewas, 400.000 keluarga kehilangan rumah mereka, serta tak terhitung yang kehilangan sumber penghasilan.
tapi sebuah contoh baik muncul dari sosok pengusaha muda, namanya Mansukhbhai Prajapati. Ia pun kehilangan segalanya, tetapi ia menemukan cara inovatif untuk memperbaiki ekonominya. Prajapati merancang kulkas murah dengan bahan tanah liat. Kulkas tanah liat ini tak membutuhkan listrik serta akan terus berfungsi dalam perihal kejadian bencana kayak yang menghancurkan desanya.

Ada pun sosok Mansukhbhai Patel, seorang petani Gujarat. Ia merancang mesin pemetik kapas yang sederhana serta murah. Sebelumnya pekerjaan memetik kapas memerlukan tak sedikit tenaga, bahkan para orang tua mesti melibatkan anak-anak mereka. Mesin bikinan Patel cuma perlu satu orang untuk mengoprasikannya. Alhasil, penemuan ini membantu mengurangi jumlah pekerja anak di wilayah tersebut. serta anak-anak dapat lebih fokus menempuh pendidikan di Sekolah.

Ada pun Yayasan Penyandang Cacat di India bernama Bhagwan Mahaveer Viklang Sahayata Samiti (BMVSS). Yayasan ini memproduksi Tangan serta Kaki buatan dengan harga murah, sekitar USD 45. Produk BMVSS ini kualitasnya sebanding dengan produk barat yang harganya mencapai USD 10.000.  Ribuan penyandang cacat di India yang tak bisa menempuh prosedur medis yang mahal, memperoleh manfaat dari BMVSS serta program mereka yang bernama "Jaipur Foot".

Penemuan Prajapati, Patel serta BMVSS merupakan bagian dari tren yang berkembang di India. Ini telah  terkenal diseluruh dunia sebagai "Frugal Innovation" (Inovasi Hemat/Murah). Dengan pesat, para inovator bermunculan di seluruh India. Semua merancang inovasi serta solusi murah untuk masalah lokal. Orang India tak berpikir jauh-jauh serta muluk-muluk soal Inovasi. Kebanyakan Inovasi itu muncul sebagai sebuah jawaban atas kebutuhan. Ada pun yang menggabungkan Inovasi-inovasi yang telah ada untuk memecahkan masalah baru. Atau Inovasi dengan menyempurnakan hasil Inovasi yang telah ada sebelumnya.

Fenomena ini jadi contoh serta model yang amat menarik perhatian dunia barat. Terutama pada visi Inovasi Hemat/Murah-nya . Tahun lalu The National Endowment for Science, Technology and the Arts (Nesta), sebuah badan independen Inggris, menerbitkan sebuah makalah penelitian besar pada fenomena tersebut.
Atas laporan ini, tak sedikit surat kabar Eropa memkabarkan bahwa, "Inovasi hemat ditemukan di seluruh sistem India. Mulai dari usaha untuk memilah obat dengan bantuan laboratorium pemerintah, pendekatan Bharti Airtel untuk memotong biaya panggilan telepon selular, pun pendekatan perawatan paliatif yang menyediakan akses untuk mendukung biaya kesehatan yang murah.".

Pelopor gerakan inovasi hemat ini merupakan Profesor Anil Gupta. Selama 20 tahun terakhir ia telah melaksanakan perjalanan di seluruh India untuk mencari penemu lokal. Ia fokus pada kreativitas-inovasi yang berdampak positif pada kemiskinan di pedesaan. Pada tahun 1989, Gupta mendirikan Honey Bee Network, sebuah organisasi yang mencari serta memfasilitasi para Inovator dari akar rumput. Profesor Gupta serta lembaganya pun membantu mempresentasikan penemuan mereka pada khalayak dunia.

Gupta percaya bahwa jaringannya telah membantu menggali lebih dari 25.000 Inovasi. Diantaranya, Penyemprot tanaman tenaga Sepeda Motor, Alat bantu memanjat pohon, Sepeda amfibi serta Sistem irigasi bertenaga angin.

Kirsten Bound, penulis laporan Nesta, mengatakan "Inovasi hemat merupakan perihal siasat dalam menciptakan peluang dari kendala. Menghadapi sumber daya yang langka serta kelembagaan yang tak mendukung. Dengan visi "hemat", para Inovator dapat mengembangkan solusi baru untuk menyelesaikan masalah. Tak sekedar membuat barang yang lebih murah, tetapi pun lebih baik, lebih tepat serta terukur. Ini melibatkan pendekatan pemanfaatan sumber daya yang tersedia dengan cara baru, mengurangi atau menggunakan kembali sampah atau bahkan berpikir ulang serta memperbaiki seluruh sistem di sekitar produk atau layanan yang telah ada. ".

Bound percaya bahwa filosofi Inovasi Hemat-Murah serta praktek teknologi repurposing dapat diterapkan secara global. "Inovasi Frugal yang dicontohkan India dapat memberikan implikasi penting bagi seluruh dunia" pungkas Bound.

Di Indonesia bisa nggak ya?


Sumber : sikini.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar