Kamis, 23 Januari 2014

PBB Minta Jepang Untuk Berhenti Mengeksploitasi Bisnis Gadis di Bawah Umur


PBB kembali mendesak Jepang tuk memperhatikan hak-hak para wanita, serta mungkin upaya mereka yang kali ini lebih tepat sasaran. Mereka meminta Jepang tuk lebih memperhatikan, serta menghentikan bisnis Joshi Kousei. Bisnis ini biasanya menawarkan layanan-layanan menarik bagi para klien yang biasanya berupa om-om yang mencari kesegaran daun muda karena joshi kousei artinya murid SMA.



Maud de Boer-Buquicchio merupakan orang yang bertugas tuk mengawasi bisnis jual beli anak di bawah umur, prostitusi anak-anak, serta pornografi di bawah umur. Dia mengeluarkan sebuah laporan setelah berkunjung ke Jepang pada bulan Oktober lalu tuk menyelidiki lebih lanjut mengenai bisnis joshi kousei tersebut.

“Bisnis ini cukup lazim di antara murid-murid SMP serta SMA dengan umur antara 12 sampai 17 tahun, mereka menganggap ini sebagai kerja paruh waktu dengan gengsi tinggi,” menurut laporanya dengan tambahan kalau “saat mereka bekerja, mereka biasanya diajak tuk melayani kliennya dengan layanan yang berbau seksual.”

Dia pun mencatat kalau bisnis ini memiliki tak sedikit sekali bentuk, mulai dari berjalan-jalan saja, sesi foto bersama, sampai pijat memijat yang tentu oleh para gadis sekolah tersebut. Beberapa bahkan memperbolehkan layanan-layanan seksual dalam bekerja.

Buquicchio pun sempat bertemu dengan korban-korban bisnis joshi kousei tersebut serta pun bahkan korban prostitusi. Mereka ingin supaya bisnis joshi kousei tersebut dapat dihilangkan.

Menurutnya, walaupun upaya Jepang telah “cukup membuahkan hasil” dalam perihal menangani penjualan anak di bawah umur, prostitusi di bawah umur, serta pornografi, tetapi eksploitasi joshi kousei ini masih jadi sebuah masalah serius di Jepang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar